Laporan Bacaan Pertemuan 3
KARAKTER PESERTA DIDIK
1. Karakteristik Peserta Didik berdasarkan Gender
Jika peserta didik dalam suatu kelas di lihat berdasarkan gender, maka pada umumnya kelas tersebut tidak homogen (heterogen), ada laki-laki ada perempuan.Kelas dengan peserta didik yang heterogen ataupun homogen akan memiliki karakter yang berbeda.
Olehnya itu, seorang pendidik perlu untuk memahami karakteristik peserta didik berdasarkan gendernya. Hal ini penting sebagai dasar dalam mempersiapkan pembelajaran, menyajikan materi, berkomunikasi, pemberian tugas, dan lainnya.Sebagai referensi perbedaan karakter laki-laki dan perempuan menurut Barreca, Gina. (Psychology Today) di antaranya:
1. Laki-laki sedikit peduli dengan apa yang perempuan katakan, sedangkan perempuan lebih memperhatikan apa yang di katakan laki-laki.
2. Laki-laki lebih peduli dengan apa yang di lihat, sedangkan perempuan mencoba untuk peduli dengan apa yang laki-laki lihat.
3. Perempuan akan tersenyum walaupun tidak bahagia, tapi laki-laki tergantung sifat dasarnya.
4. Laki-laki tertawa ketika menemukan sesuatu yang lucu, tapi perempuan tergantung situasi yang tepat
Selain itu, jika di lihat dari perbedaannya, maka keduanya memiliki perbedaan pada fisiologis dan biologis, peran, perilaku, kegiatan dan atribut masyarakat.
Sedangkan jika di lihat dari kesamaan, maka keduanya memiliki kesamaan peran dalam hak dan kewajiban sesuai dengan adat istiadat, budaya masyarakat. Seperti kesetaraan dalam memperoleh pekerjaan, peningkatan ilmu dan takwa, mencapai cita-cita menjadi guru, dokter, dan lain-lain. Atas dasar Karakteristik Peserta Didik yang demikian tentunya akan berimplikasi terhadap pengelolaan kelas, pengelompokan peserta didik, dan pemberian tugas yang di lakukan pendidik. Kelas yang peserta didiknya homogen tentunya tidak sesulit kelas yang peserta didiknya
2. Karakteristik Siswa berdasarkan Usia
Usia yang di miliki peserta didik akan berkonsekuensi terhadap pendekatan pembelajaran, motode, media, dan jenis evaluasi yang di gunakan pendidik. Karakteristik Peserta Didik berdasarkan usia sama pentingnya dengan 2 karakteristik sebelumnya.
Ketika pendidik menghadapi peserta didik Taman Kanak-kanak pada umumnya berusia 5-6 tahun, sudah tentu akan berbeda pendekatan, metode, dan media yang digunakan ketika menghadapi peserta didik SD yang berusia 7-11 tahun, SMP yang usianya berkisar 12-14 tahun,SMA/SMK yang umumnya berusia 15-17 tahun, karena di lihat dari perkembangan intelektualnya saja jelas berbeda.
Menurut Piaget, Karakteristik Peserta Didik berdasarkan usia dapat dilihat dari proses perkembangan intelektual anak usia Taman Kanak-Kanak pada taraf pra operasional konkrit sedangkan peserta didik Sekolah Dasar berada pada tahap operasional konkrit, dan peserta didik Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas serta Sekolah Menengah Kejuruan pada tahap operasional formal.
Berdasarkan teori perkembangan dari Piaget tersebut, selanjutnya dapat di ketahui tiga dalil pokok Piaget dalam kaitannya dengan tahap perkembangan intelektual. sebagai berikut:
1. Bahwa perkembangan intelektual terjadi melalui tahap-tahap beruntun yang selalu terjadi dengan urutan yang sama. Maksudnya setiap manusia akan mengalami urutan tersebut dan dengan urutan yang sama;
2. Bahwa tahap-tahap perkembangan di definisikan sebagai suatu cluster dari operasi mental (pengurutan, pengekalan, pengelompokkan, pembuatan hipotesis dan penarikan kesimpulan) yang menunjukkan adanya tingkah laku intelektual, dan
3. Bahwa gerak melalui melalui tahap-tahap tersebut di lengkapi oleh keseimbangan (equilibration), proses pengembangan yang menguraikan tentang interaksi antara pengalaman (asimilasi) dan struktur kognitif yang timbul (akomodasi).
3. Karakteristik Peserta Didik berdasarkan Kultural
Peserta didik yang kita hadapi mungkin berasal dari berbagai daerah yang tentunya memiliki budaya yang berbeda-beda sehingga kelas yang kita hadapi kelas yang multikultural.
Pendidikan multikultural sebagaimana di ungkapkan Muhaemin el Ma’hady didefinisikan sebagai pendidikan tentang keberagaman kebudayaan dalam meresponi perubahan demografis dan kultural lingkungan masyarakat tertentu atau bahkan dunia secara keseluruhan (global).
Pendidikan multikultural menurut Choirul Mahfud memiliki ciri-ciri:
1. Tujuannya membentuk “manusia budaya” dan menciptakan manusia berbudaya (berperadaban).
2. Materinya mangajarkan nilai-nilai luhur kemanusiaan, nilai-nilai bangsa, dan nilai-nilai kelompok etnis (kultural).
3. Metodenya demokratis, yang menghargai aspek-aspek perbedaan dan keberagaman budaya bangsa dan kelompok etnis (multikulturalisme).
4. Evaluasinya di tentukan pada penilaian terhadap tingkah laku anak didik yang meliputi aspek persepsi, apresiasi, dan tindakan terhadap budaya lainnya.
Atas dasar definisi dan ciri-ciri pendidikan multicultural tersebut di atas, seorang pendidik dalam melakukan proses pembelajaran harus mampu memperhatikan Karakteristik Peserta Didik berdasarkan keberagaman budaya yang ada di sekolahnya/kelasnya.
4. Karakteristik siswa berdasarkan Status Sosial
Karakteristik Peserta Didik dapat di lihat dari latar belakang pekerjaan orang tua, di kelas kita terdapat peserta didik yang orang tuanya wirausahawan, pegawai negeri, pedagang, petani, dan buruh.
Dilihat dari sisi jabatan orang tua, ada peserta didik yang orang tuanya menjadi pejabat seperti presiden, menteri, gubernur, bupati, camat, kepala desa, kepala kantor atau kepala perusahaan.
Di samping itu ada peserta didik yang berasal dari keluarga ekonomi mampu, ada yang berasal dari keluarga yang cukup mampu, dan ada juga peserta didik yang berasal dari keluarga yang kurang mampu.
Peserta didik dengan bervariasi status ekonomi dan sosialnya menyatu untuk saling berinteraksi dan saling melakukan proses pembelajaran.
Perbedaan ini hendaknya tidak menjadi penghambat dalam melakukan proses pembelajaran. Namun tidak di pungkiri kadang di jumpai status sosial ekonomi ini menjadi penghambat dalam belajar secara kelompok.
Oleh karena itu pendidik dituntut untuk mampu mengakomodasi hal-hal seperti ini.
5. Karakteristik siswa berdasarkan Minat
Minat dapat di artikan suatu rasa lebih suka, rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas. Hurlock, E. menyatakan bahwa minat merupakan suatu sumber motivasi yang mendorong seseorang untuk melakukan kegiatan yang di pilihnya.
Apabila seseorang melihat sesuatu yang memberikan manfaat, maka dirinya akan memperoleh kepuasan dan akan berminat pada hal tersebut.
Lebih lanjut Sardiman, menjelaskan bahwa minat sebagai suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atau arti sementara situasi yang dihubungkan dengan keinginan-keinginan atau kebutuhan-kebutuhannya sendiri.
Oleh karena itu apa yang di lihat seseorang sudah tentu akan membangkitkan minatnya sejauh apa yang dilihat itu mempunyai hubungan dengan kepentingan orang tersebut.
Atas dasar hal tersebut sebenarnya minat seseorang khususnya minat belajar peserta didik memegang peran yang sangat penting.
Oleh karena itu hendaknya terus ditumbuh kembangkan agar selalu tinggi. Namun sebagaimana kita ketahui bahwa minat belajar peserta didik tidaklah sama, ada peserta didik yang memiliki minat belajarnya tinggi, ada yang sedang, dan bahkan rendah.
Untuk melihat peserta didik memiliki minat belajarnya tinggi atau tidak sebenarnya dapat di lihat dari indikator minat itu sendiri.